Belajar Bertengkar dengan Cinta

Belajar Bertengkar dengan Cinta

Namanya suami istri, pasti pernah argumen dan bertengkar. Tapi bagaimana kalau pertengkaran justru jadi tempat kita belajar mencintai lebih dalam? Di sini kami berbagi kisah nyata dan pelajaran yang kami temukan di perjalanan pernikahan kami.

#KeluargaKatolik #PernikahanKristen #PasanganSuamiIstri #BelajarMencintai #HubunganSehat #RelasiSuamiIstri #MarriageJourney #CintaDalamPernikahan #BertengkarSehat #KomunikasiPernikahan #PodcastRohani #RenunganHarian #ImanKristen #KisahPernikahan #MarriageLife


00:00:05
Selamat jumpa teman teman kulaker Katolik hari ini kita

00:00:09
akan mendengarkan episode terpadu dari aku, kau dan dia

00:00:14
pangkas keluarga Katolik masih bersama mami puspa dan deddy

00:00:19
rasa selamat mendengarkan. Selamat teman teman keluarga

00:00:24
Katolik tak terasa kita udah sampai bulan Oktober.

00:00:30
Ya. Cepet banget itu iya kayaknya

00:00:33
semakin tua ngerasa kita. Waktu itu semakin cepat.

00:00:40
Benar benar. Kayaknya baru kemarin awal tahun

00:00:42
tahu tahu buset udah ulang tahun lagi, bentar lagi bentar lagi

00:00:47
kamu sama mas acara ulang tahun ya kan?

00:00:50
Bertambah umur. Iya tolong doakan kami supaya

00:00:54
masih banyak semangat ya hidup dan melayani.

00:01:02
Untuk episode kali ini kami mau membahas lebih ke tentang

00:01:08
hubungan suami istri ya di podcast aku kau dan dia ini kan

00:01:13
untuk teman teman yang suka mendengarkan.

00:01:18
Teman teman kan notice kalau topik kita ini bervariasi.

00:01:23
Ada banyak tentang parenting. Gimana cara kita parenting?

00:01:27
Ada banyak sharing. Sharing dari kami dari teman

00:01:32
teman ada yang membahas pelayanan ada yang membahas.

00:01:39
Mendidik anak waktu itu parenting juga ada yang membahas

00:01:43
relasi ya kan ada yang membahas mengalami tuhan dalam hidup ya

00:01:49
macam macam. Tapi tahun ini kita berpikir

00:01:53
kalau penting untuk berfokus tentang relasi suami istri, ya

00:01:59
kayaknya kayaknya kita enggak enggak terlalu banyak membahas

00:02:04
itu. Belum ya ya?

00:02:06
Dan kalau tahun lalu. Tahun lalu sebenarnya kita

00:02:11
banyak berfokus untuk pengalaman hidup keluarga muda.

00:02:15
Ya kayaknya jadi sengaja itu jadi banyak sharing tentang apa?

00:02:24
Kalau anaknya masih kecil gitu ya gimana mendidik mereka gimana

00:02:29
mengajar mereka? Masalah masalah apa yang

00:02:32
dihadapi gitu. Masalah hidup ya itu itu sengaja

00:02:36
sih ya karena kita kita notice. Ya fase itu cukup berbeda dengan

00:02:42
fase hidup kita sekarang yang anda kita udah beranjak remaja

00:02:46
ya keluarga kan melalui fase fase gitu dan mungkin untuk dari

00:02:51
episode ini dan mungkin 6 12 bulan ke depan kita akan tetap

00:02:57
bahas topik topik yang bervariasi.

00:02:59
Tapi mungkin teman teman akan nyadar, kita akan lebih banyak

00:03:02
ngomongin tentang. Relasi Antara suami istri ya dan

00:03:08
hari ini kita memulai dengan ngobrol tentang bagaimana sih

00:03:12
cara berargumen yang konstruktif.

00:03:17
Gimana caranya berantem teman. Temannya berantem ya sama sama

00:03:21
pasangan. But, but seriously?

00:03:27
Kita mau bahas ini karena 1 dalam.

00:03:32
Dalam relasi suami istri itu kan pasti ada argumennya.

00:03:36
Ya itu. Enggak bisa dihindari.

00:03:39
Yes. Yes, meskipun kita coba hindari

00:03:42
atau enggak memikirkan pasti ada argumen kenapa?

00:03:46
Karena kita manusia kita punya pribadi yang berbeda.

00:03:50
Pemikiran pendapat yang berbeda beda gitu.

00:03:54
Dan justru menurutku kalau suami dan istri enggak enggak enggak

00:03:59
pernah argumen ya mungkin mungkin ada special acception

00:04:04
ya. Tapi kalau benar benar enggak

00:04:06
berantem ya aku wondering apakah saling peduli.

00:04:11
Karena banyak pasangan yang sudah apa sudah mengarah ke

00:04:16
perpisahan. Biasanya sudah enggak sudah

00:04:18
enggak berantem, tapi enggak ngomong lagi satu sama lain ya.

00:04:22
Silence is actually not not a good sign in in in married gitu.

00:04:26
Jadi dengan iya kalau kita kita pegang itu ya kita suami istri

00:04:30
kan pasti ada berargumen. Kalau gitu jalan jalan keluarnya

00:04:36
gimana ya? Menurut menurut kita sih ya

00:04:38
kalau kita ada argumen. Baiki kita belajar gimana

00:04:44
berargumen yang konstruktif artinya gimana kita manage

00:04:50
argumen itu supaya enggak. Enggak merusak ya?

00:04:53
Atau enggak beluki hubungan kita gitu?

00:04:58
Mungkin aku ngomong puspa mau blak blakan kali ini kita mau.

00:05:03
Mau sharing gitu tentang. Tentang apa ya pertengkaran kita

00:05:10
dan mungkin selama kita menikah hampir 17 tahun ini gimana

00:05:14
perjalanan kita? Ya dari dari dari masih muda,

00:05:20
imut imut dan celun. Sehingga sekarang ini gitu

00:05:25
gimana apa sih yang kita udah belajarin gitu tentang tentang

00:05:28
argumen gitu? Aku sama puspa ini sama sama

00:05:33
orang yang keras kepala karena puspa anak tunggal aku anak 1 ya

00:05:39
kan. Biasanya anak tunggal itu emang

00:05:41
pendiriannya kuat. Ya kan kalau anak kalau anak 1

00:05:44
biasanya sudah kebiasaan ngebost di rumah.

00:05:48
Dia dia waktu grow up kan paling gede paling paling kuat awalnya

00:05:51
mungkin paling pintar karena lebih tua saja sih.

00:05:54
Jadi rata rata kan mungkin teman teman setuju ya anak 1 sama anak

00:06:00
tunggal itu pendiriannya kuat gitu.

00:06:03
Dan kita juga seumur. Jadi enggak ada, cuma beda

00:06:07
sebulan ya kita. Jadi sama sama kuat.

00:06:10
Jadi sama sama sama sama kuat. Iya iya.

00:06:14
Pendiriannya pendiriannya dan actually aku aku atracted sama

00:06:20
puspa karena. Aku ya aku aku atracted sama

00:06:25
pasangan yang bisa yang berani apa berdialog ya berani

00:06:30
berargumen gitu bukan yang. Apa kalau ada?

00:06:36
Ketidak setujuan ya ada disgemen itu diam saja gitu.

00:06:40
I think nurut saja aku justru enggak suka gitu.

00:06:43
Aku prefer bisa bisa pasangan yang bisa ngomong gitu.

00:06:48
Well ya ya dapatin kayak gini lah akhirnya.

00:06:53
Jadi. Itu enggak bisa enggak enggak?

00:06:58
Enggak bisa nyesel. Coba kita mikir waktu awal baru

00:07:05
menikah ya kamu ingat enggak gimana sih kita kalau kalau

00:07:09
berargumen itu? Gimana ya 17?

00:07:13
Saya enggak tahu lupa. Gimana ya?

00:07:19
Gimana 17. Tahun mana sering lupa sih kayak

00:07:22
kayak gitu gitu. Kamu mungkin yang lebih.

00:07:25
Inget. Kenapa tuh lupa.

00:07:30
Banyak yang. Dipikirin yang lebih penting

00:07:35
dipikirin. Yang lebih.

00:07:41
Kerjain sekarang kali ngapain ingat ingatin 17 tahun lah lu

00:07:45
udah enggak enggak enggak relevan.

00:07:48
Enggak enggak tapi masih sakit hati.

00:07:50
Enggak enggak mau mikir. Ya enggak kalau enggak kepikiran

00:07:53
ya ya kalau kalau sakit hati ya sudah enggak bikin podcast.

00:07:57
Kalau enggak bikin podcast. Ya kalau kita psikolog kan

00:08:01
bilang ada ada alam bawah sadar gitu.

00:08:05
Tapi kayaknya enggak sih ya kalau kalau kamu masih sakit

00:08:08
hati biasanya. Ingat dan dan keluar gitu.

00:08:13
Well ya mungkin aku lebih ingat ya karena aku suka masih.

00:08:16
Sakit hati. Aku suka berefleksi ya kalau dan

00:08:21
ya profesiku kan apa belajar tentang hidup manusia belajar

00:08:26
tentang manusia jadi. Aku suka ingat buat belajar ya

00:08:33
untuk untuk untuk berefeksi dan karena suka mikir aku sih

00:08:37
ingatnya dulu dulu itu. Aku rasa kita enggak kita enggak

00:08:42
enggak sering berantem sih ya. Kalau yang namanya berantem awal

00:08:48
awal ya awal awal ya argumen adalah argumen argumen macam

00:08:53
macam kan namanya baru baru lift together belajar gitu.

00:08:57
Aku baru belajar kalau cuci piring sponsnya mesti spesifik

00:09:02
buat kamu. Kalau enggak iya dan ada secer

00:09:06
thing yang kamu noeng, tapi seingatku kita enggak terlalu.

00:09:11
Sering berantem dan kalau kita argumen tuh bukan tipe yang

00:09:17
saling teriak teriakan. Ya ya kan ada kan ya we fight

00:09:22
differently we fight differently.

00:09:24
Tapi yang aku ingat. Gaya berantem kita itu mungkin

00:09:28
kita mulai dengan berargumen. Iya kan berargumen kamu ngotot

00:09:34
aku ngotot. Marah.

00:09:38
Tapi lalu biasanya kamu tuh diam dan menarik diri ya.

00:09:44
Kamu menarik diri. Dan try to live you alone.

00:09:53
Ya hmm aku dulu mungkin sebelum sebelum menikah gitu.

00:09:59
Maksudnya manusia lama gitu ya dulu dulu kalau berantem ya

00:10:04
enggak mau ini ya enggak mau kalah kan, jadi kalau berargumen

00:10:08
ya harus yang menang dan terakhir ngomong gitu kan.

00:10:15
Terus juga idealis. The more i talk itu bisa

00:10:20
memperburuk situasi gitu. Lebih menyakiti uh lawan kita

00:10:28
gitu jadi. Aku mulai berusaha untuk menahan

00:10:35
diri gitu untuk untuk oke uh. Aku masih marah.

00:10:40
Tapi kalau aku ngikutin kemarahanku, aku akan

00:10:43
memperburuk situasi dan semakin menyakiti.

00:10:48
Jadi aku memilih diam untuk ya menahan diri untuk enggak makin

00:10:54
makin berdosa gitu. Jadi niatmu niatmu niatmu baik

00:10:59
ya untuk enggak enggak menyakiti.

00:11:02
Nggak menyakiti aku atau sama else gitu?

00:11:05
Tapi aku inget. Aku kalau habis kita saling

00:11:12
berdiam gitu. Awalnya aku find it hopefful ya

00:11:17
karena emang kita kan lagi panas enggak enggak.

00:11:20
Aku juga punya prinsip enggak? Thats no point ya link at each

00:11:23
other ya karena kemarah itu kan bisa menarik kita gitu.

00:11:28
Tapi aku rasa mungkin aku aku lebih cepat dinginnya karena

00:11:32
kamu suka. I think.

00:11:36
Panasnya lebih lama karena kamu diamnya lebih lama.

00:11:38
Sometimes aku coba reach out ngajak kamu ngomong gitu, kamu

00:11:42
masih enggak mau? Iya dan.

00:11:47
Kamu aku ingat. Dulu ingat kalau kamu habis

00:11:53
berantem itu kalau kamu diam itu between three to seven days.

00:12:00
Paling lama semingguan gitu ya. Dulu aku enggak ngerti kan i

00:12:04
think. Zaman itu kita belum ngomongin

00:12:07
kayak gini. Jadi aku enggak ngerti kenapa

00:12:09
kamu diemin aku yang aku tahu cuma kayak masih 4 gitu ya

00:12:13
ngelihat aja enggak gitu. Terus sikapmu itu membuat makin

00:12:19
kesal gitu. Jadi apa?

00:12:22
Iya iya, itulah cara mengenal ya saling mengenal gitu.

00:12:26
Jadi buat aku makin kayak makin numpuk gitu ini um berasa.

00:12:33
Enggak peduli berasa kayak. Ya.

00:12:38
Pokoknya makin. Poinnya nambah aja terus gitu

00:12:41
poin negatifnya. Dan dulu aku enggak ngerti

00:12:46
intensi mu tuh baik kalau. Aku ingat 1 kali kamu bilang

00:12:52
gitu. Aku justru malah kesel pas kamu

00:12:55
bilang aku enggak ngomong karena aku enggak mau enggak mau.

00:13:01
Say dong think atau memperburuk dan aku nangkapnya apa tuh

00:13:04
enggak aku nangkapnya. Di pikiranmu seburuk itukah aku

00:13:09
gitu? Kamu masih masih.

00:13:13
Masih marah gitu kan? Aku ingat kita.

00:13:18
Kita itu bertahun tahun seperti itu argumennya meskipun enggak

00:13:21
sering gitu. Pengo ingat satu titik itu kalau

00:13:26
buat aku itu. Di dikacangin istri berhari hari

00:13:32
it was mainful. Karena hidupku kan cuman.

00:13:41
Berputar di sekitar keluarga kerja kerja aku itu rata rata 5

00:13:50
setengah sampai 6 hari seminggu lah ya aku selalu kerja gitu

00:13:54
meskipun weekend 2 hari ya enggak enggak pernah enggak

00:13:58
pernah 2 hari full gitu selalu ada praktek hari Sabtu atau ada

00:14:02
hal hal lain lah dan kita kan pelayanan kita sibuk.

00:14:07
Aku enggak punya banyak teman ya mungkin.

00:14:10
Teman teman, keluarga Katolik pria, pria yang menikah

00:14:13
kebanyakan dari kita kan. Sudah enggak terlalu punya

00:14:17
banyak waktu untuk apa hang out sama teman temannya kalau yang

00:14:22
masih bisa syukur banget. Kalau aku sih dulu enggak bisa

00:14:25
jadi haus lonely gitu. Dulu anak kita masih kecil,

00:14:29
enggak bisa dia ngomong enggak bisa diajak ngomong masih baby

00:14:32
sizara gitu. Masih kayaknya di bawah 10 tahun

00:14:38
ya pernikahan kita. Iya ya kalau kalau kalau

00:14:44
sekarang ada anak bisa diajak ngomong meskipun kamu kesal kan

00:14:47
ya bisa ngobrol sama yang lain kesepian.

00:14:51
Iya actually we do that. Kalau anak anak lagi kesal sama

00:14:54
sama satu dari kita ya masih ada orang lain gitu yang bisa apa

00:14:59
bisa jadi tempat curhat atau kan teman ngomong gitu, tapi dulu it

00:15:03
was so isolating and it was. Dan karena anak anak kecil juga

00:15:09
physically capeknya juga. Beda dan itu dan itu aku rasa

00:15:16
aku coba ingat ingat. Memperburuk.

00:15:21
Apa keadaan hati gitu loh ya kan?

00:15:27
Uh dan aku rasa juga kamu kan enggak enggak terlalu banyak.

00:15:31
Apa enggak terlalu banyak sosialis juga kan?

00:15:34
I think iya kamu stay home banyak ngurusin anak ya dan du

00:15:40
chorce. Untuk enggak kuliah kayaknya.

00:15:46
Ya ada masa ada masa masanya ya aku pas kuliah juga itu lebih

00:15:49
susah. Berkali kali kuliah.

00:15:55
Ya begitulah bertahun tahun sampai akhirnya.

00:15:59
Ya gitulah kita kita rada stuck ya dan ada pattern ada pattern

00:16:04
dalam argumen. Nah itu satu lagi.

00:16:07
Dalam pengalaman pribadi. Aku dan ngelihat.

00:16:13
Klien klien klien klien konseling gitu emang kalau kalau

00:16:17
pasangan suami istri ada. Ada berargumen pertengkaran itu

00:16:23
biasanya ada ada polanya karena kita kita punya apa ya?

00:16:28
Personality sama behavior patternnya.

00:16:31
Tapi buat kita ya polanya gitu gitu argumen argumen argumen ya

00:16:36
enggak sampai meledak gimana. Diem dieman terus tapi kamu

00:16:42
diamnya lama aku udah mau ngajak ngomong tapi masih enggak enak

00:16:46
gitu. So frusting aku ingat.

00:16:50
Ada satu titik di mana? Ada perubahan.

00:16:58
Ya itu lama juga setelah setelah 10 tahun mungkin.

00:17:05
Baru aku ingat. Kita lagi ribut lagi berantem

00:17:12
kamu diam gitu. Akhirnya aku.

00:17:17
Aku ngomong gitu kamu tahu nggak kalau kamu diemin aku lama gini

00:17:21
berhari hari seminggu itu sakit loh gitu jadi tolong tolong

00:17:26
tolong jangan tolong jangan aku ngerti kamu marah sama aku tapi.

00:17:33
It hurts me so much gitu ya dan aku masih ingat kamu enggak

00:17:38
respon. Kamu enggak respon.

00:17:43
Tapi yang aku notice. Next time kita berantem.

00:17:47
Kamu gak dimin aku selama itu? Masih diemin ya?

00:17:52
Oh iya iya itu kan bola kita ya aku juga aku juga aku juga

00:17:57
enggak enggak. Ya enggak enggak, aku enggak

00:18:01
pengin teriakin kamu ya aku juga butuh diam sampai kalem but aku

00:18:05
notice. Sometimes.

00:18:12
Misalkan kita di dapur gitu ya. Kerjain something something itu

00:18:16
terus kamu nanya. Mau makannya apa gitu atau mau

00:18:22
ini enggak gitu? Atau misalkan aku aja ngomong

00:18:26
katanya mau kopi nggak ya mau? Kamu enggak ngacangin aku ya?

00:18:32
Jadi tuh kayaknya. Pas pas kamu ada respon atau

00:18:35
kamu yang Richard ke aku ngerasa ya oke gitu itu kan seperti

00:18:40
membuka jalur komunikasi lagi ya, jadi kayak menawarkan

00:18:44
jembatan gitu oke its oke untuk untuk menyeberang gitu ya untuk

00:18:49
untuk koneksi lagi gitu. Aku appreciate.

00:18:57
Dan waktu itu. Kamu mau cerita enggak?

00:19:01
Waktu itu kamu bilang bilang apakah aku itu juga satu titik

00:19:06
lagi? Aku ngerasa di mana.

00:19:09
Ada perubahan. Tapi anas aku enggak terlalu

00:19:12
inget sih. Aku exactly ngomongnya apa?

00:19:18
Ya mungkin i think sometimes. Kita melihat dari sudut pandang

00:19:24
beda ya. Tapi menurut.

00:19:28
Perspektif aku kamu pernah lagi kesal itu kamu bilang kalau aku

00:19:33
lagi marah. Aku mungkin nggak bisa ngomong,

00:19:38
tapi aku mau diplok. Aku mau dibukti belakang.

00:19:45
Oh oke. Bisa mikir aku pikir kalau orang

00:19:50
lagi marah tuh pengennya di live alone dijawabin terus oke oke.

00:19:59
Awalnya aku aku bertanya tanya sih ini jebakan atau benar?

00:20:05
Anjing banget teman teman tapi terus aku ingat kamu kita habis

00:20:09
berantem kamu marah lagi diam gitu ya nangis kamu kalau kalau

00:20:15
kalau bete kan suka dirancang kayak.

00:20:19
Marah atau nangis gitu atau sedih kelihatannya gitu aku

00:20:24
ngelihat itu dan aku ingat oke ya udah coba deh.

00:20:27
Coba deh aku aku aku peluk gitu. Dan yang menarik, kamu nggak

00:20:33
menolak? Kamu enggak mendorong gitu ya?

00:20:35
Atau enggak marah sometimes kan ya kalau kita lagi marah di

00:20:38
disentuhkan makin marah kan gitu karena kamu menerima menerima

00:20:43
aku merasa. Oh iya jujur.

00:20:46
Jujur dan kamu butuh ini gitu kan aku enggak tahu kamu merasa.

00:20:52
Merasa enggak itu? Apa merasa enggak aku melakukan

00:20:57
itu sesuai dengan yang kamu mau atau enggak aku, aku enggak tahu

00:21:01
gitu, tapi tapi aku ngerasa aku coba sekali 2 * 3 kali aku

00:21:05
merasa kamu enggak pernah menolak dan dan actually

00:21:09
kayaknya. Itu cukup cukup membantu kita

00:21:14
untuk bisa pulih. Ya dari dari.

00:21:18
Argumen iya cepat bayar. Gitu.

00:21:24
Jadi dari 2 momen itu aku ngerasa ada pentingnya.

00:21:29
Kejujurannya atau sama lain? Apa yang kita butuhin?

00:21:34
Kita tahu kan kalau kita enggak bisa baca pikiran orang gitu,

00:21:38
tapi tetap saja kita sulit gitu untuk ngomongin apa yang kita

00:21:43
mau, apa yang kita ingin jadi seringkali lawan bicara kita

00:21:49
atau lawan argumen kita itu nebak nebak itu untuk

00:21:53
meresponnya seperti apa bukan nebak nebak kadang kadang enggak

00:21:57
nebak juga, tapi cara mereka merespon dan itu seringkali

00:22:02
memperburuk situasi gitu. Dan enggak helpful ya kan ya ya

00:22:07
emang lebih baik diomongin lah untuk bisa relasi kita membaik.

00:22:12
Karena dengan diomongin kan ada jalan keluar dan bisa saling

00:22:16
ngerti kan iya. Dan juga mungkin konfirmasi gitu

00:22:21
ke pihak lainnya gitu bahwa saat kita marah.

00:22:27
Biasanya kan kita ngerasa. A misalnya kamu marah?

00:22:33
Hmm. Secara nggak langsung secara

00:22:34
nggak sadar kita ngerasa takut dia gak cinta lagi sama aku gitu

00:22:38
kan. Apa jadi?

00:22:43
Dan itu semua kan dipikiran tuh its worth dan.

00:22:48
Iya kan jadi jadi respon kita kadang kadang juga terpengaruh

00:22:53
sama pikiran itu. Ketakutan itu gitu jadim.

00:22:58
Ya dengan diomongin dan orang. Misalnya kayak.

00:23:06
Kamu enggak? Dulu awalnya enggak enggak

00:23:11
approach aku. Cepat gitu kan malah ditinggalin

00:23:14
gitu. Karena mungkin kamu ngerasa

00:23:18
kalau kamu peluk terus ditolak gitu kan atau di di push away

00:23:22
kan ya lebih. Lebih lama juga karena enggak.

00:23:24
Mau. Untuk aku juga ngerasa makin.

00:23:31
Udah tahu lagi berseteru dengan pelukan itu kan buat aku

00:23:38
menunjukkan bahwa um we still together we still love each

00:23:42
other gitu. Ya gitu.

00:23:47
Ya intinya aku raja kita sejak saat itu sejak momen momen itu

00:23:52
kita berubah ya cara berantemnya jadi lebih cepat, lebih cepat

00:23:57
baik an ya dan lebih lebih tahu juga gitu.

00:24:00
Aku rasa pola kita berubah, jadi kalau kita sudah siap untuk

00:24:03
ngomong lagi. Kita mulai ngomongin hal yang

00:24:07
kecil hal sehari hari. Mau kopi enggak gitu?

00:24:12
Kalau enggak nih aku bikinin kopi karena kita punya habit

00:24:15
minum kopi setiap pagi ya jadi aku selalu bikinin atau kamu.

00:24:21
Nanya mau ke supermarket nih kamu titip apa gitu ya kan

00:24:26
simple things tapi itu itu juga akurasi jadi q buat kita untuk.

00:24:32
Untuk ngomong lagi. Ya udah dingin sudah.

00:24:36
Dingin ya ya. Sudah sudah siap untuk.

00:24:40
Itu apa? Ya iya benar.

00:24:46
Kalau buat aku fokus kadang kita orang keras kepala.

00:24:51
Kamu notice enggak kalau kita enggak merasa salah kita enggak

00:24:54
say sorry kan? Iya, but it is okay ya ngapain

00:25:00
ya kan? Tapi aku ngerasa kita sama sama

00:25:04
nerima gitu ya. Ya udah enggak apa apa.

00:25:07
Meskipun ya kalau aku ingat sampai sekarang ya kalau aku

00:25:10
ngerasa benar kamu ngerasa benar yaudah sudah bayang, tapi ya ya

00:25:13
enggak ada yang. Ingat ngomong pintar. 2000

00:25:16
enggak penting ya? Menurutku enggak penting gitu.

00:25:18
Iya enggak penting, enggak penting enggak penting.

00:25:22
Siapa yang salah? Enggak penting siapa yang salah

00:25:24
atau benar? Ya ternyata orang yang aku

00:25:26
belajar sih semakin semakin tua. Tapi aku rasa dengan kita

00:25:31
ngomong lagi PM lagi itu kita. Apa ya memaafkan bahwa which

00:25:37
been hurt gitu kita merasa disakiti tapi.

00:25:43
Apa ya memaafkan di sisi situnya gitu?

00:25:48
Bukan? Bukan apa topik yang di topik

00:25:53
yang. Di diperdebatkan relasi tuh

00:25:56
lebih penting daripada menang. Ya itu prinsip prinsip satu lagi

00:26:02
sih. Karena ya kalau kalau ada yang

00:26:05
menangan deng kalah. Iya kan.

00:26:08
Enggak semua orang enggak mau diproses.

00:26:10
Ya mau kalah. Yang mendingan 2 duanya merasa

00:26:14
benar. Tapi juga ya.

00:26:18
Di satu sisi kan kita juga sadar bahwa kita.

00:26:23
Apa pernah menyalahi gitu. Saling menyalahi dengan

00:26:28
menyakiti hati gitu. Kan uh ya.

00:26:33
Dan i think problem juga some problem juga mungkin enggak bisa

00:26:39
selesai ya, kayaknya kita masih ada hal hal yang kita enggak

00:26:42
enggak enggak enggak bisa setuju atau meet i to eye tapi.

00:26:49
Aku rasa nggak penting itu dia diributin terus nanti.

00:26:54
I think kadang kadang kita tuh berpendapat semua masalah tuh

00:26:58
harus diselesaikan. Maksudnya setiap apa diseglement

00:27:03
gitu ya itu harus diharus ada ada persetujuan gitu loh ya

00:27:08
tapi. Uh be i realistic.

00:27:14
Aku rasa itu mungkin. Kebiasaan orang indo bukan ya

00:27:20
atau asia gitu ngerasa kalau kalau kita enggak sependapat

00:27:25
artinya kita. Uh musuh kita di.

00:27:29
Pihak di pihak. Yang berlawanan gitu um jadi

00:27:33
penting buat tahu bahwa. Sependapat gitu pendapatnya sama

00:27:40
dan apa tuh kayak setuju gitu semuanya harus.

00:27:47
Memenuhi ke persetujuan gitu. Tapi memang realitanya ya enggak

00:27:53
semua hal kita bisa sependapat gitu dan dan kalau.

00:28:00
Hal hal yang bukan prinsip hidup gitu.

00:28:03
Aku rasa its okay untuk punya pendapat yang berbeda gitu.

00:28:08
Ya kan? Dan syukurnya akting kita kita

00:28:15
enggak enggak enggak terlalu banyak hal prinsip yang.

00:28:19
Kita benar benar saling bertentangan sih ya.

00:28:24
Enggak enggak enggak banyak atau enggak enggak kepikiran gitu.

00:28:27
Jadi ya artinya misalkan keputusan.

00:28:33
Uh 2 spons cuci piring ya. Ya ya ya aku uh ya aku udah bisa

00:28:38
menerima sih setelah 17 tahun anting kita bisa let go gitu ya?

00:28:44
Atau itu enggak penting gitu untuk enggak penting.

00:28:47
I guess thats itu buat aku satu lagi i think something is not

00:28:52
worth fighting over dan ya sudah itu its better to.

00:28:58
To let go. Apa pic pic your fighter.

00:29:03
Pick your fight. Ya to five nya.

00:29:07
Suka suka kesal kalau. Barang barang gak dikembalikan

00:29:13
di tempatnya gitu ya kan? Tapi udah di poin yang ya udah

00:29:19
kalau aku bisa ngerjain ya aku ngerjain gitu enggak enggak.

00:29:24
Apa terus terusan. Mau mengubah gitu.

00:29:31
Mau nggak terus terusan mau mengubah.

00:29:35
Uh pasangan kita gitu terutama. Mungkin maksudnya kan baik gitu

00:29:41
om. Kalau dikembalikan kan kalau.

00:29:45
Cari cari gampang gitu, tapi hanya tuhan yang bisa mengubah.

00:29:51
Apalagi kebiasaan yang udah udah puluhan tahun gitu.

00:29:56
Jadi sekarang ya i pick my fight ya enggak semuanya, karena sudah

00:30:03
enggak punya tenaga untuk apa meributkan hal hal sepele yang

00:30:09
yang yang. Enggak worth it gitu buat dia

00:30:12
berantemin. Ih jadi kalau misalkan aku taruh

00:30:15
barang sembarangan ya kamu memilih untuk ya ngangkat atau

00:30:21
atau biarin aja gitu. Dia ngomel ngomel iya lah pasti

00:30:25
ingetin gitu cuman udah. Bukan jadi bahan yang

00:30:31
diperdebatkan yang kayaknya mesti ini orang mesti berubah

00:30:35
dengan cara yang lebih baik kayak gitu.

00:30:38
Ya enggak apa apa. Aku juga menerima segala

00:30:41
kekuranganmu kok. Manya sama sama ya kan?

00:30:45
Aku rasa teman teman keluarga, katalog yang lain juga punya lah

00:30:49
ya hal hal seperti itu gitu, yang yang kita eventy bisa

00:30:53
nerima gitu. Iya iya so ya gitulah cara aku

00:30:58
sama puspa berargumen ya argumen masih ada, masih ada aja dan ya

00:31:05
sometimes juga. Sometimes juga tegang, tapi ya

00:31:09
sekarang at least kita bisa menyelesaikan atau istilah

00:31:15
istilah teknisnya sama repar ya menurut ahli pernikahan itu.

00:31:21
Dalam suatu hubungan suami istri yang penting tuh reparnya.

00:31:26
Gimana kita memperbaiki dan balik ke situasi di mana apa.

00:31:33
We are okay itu nah kalau saya kita kita lumayan cepat sekarang

00:31:38
bisa sudah sudah sudah gitu misalkan udah ribut ya within

00:31:43
within a day or we we even fifty hours juga sudah mau makan apa

00:31:47
ngomongnya. Dan udah enggak sesering dulu

00:31:50
ya. Sudah sudah enggak sering dulu

00:31:52
ya. Puji tuhan aku rasa.

00:31:56
Makin belajar firman makin berkomunitas didapat dapat

00:32:03
wejangan gitu dapat pengajaran ini itu aku rasa itu juga

00:32:07
membantu untuk kita bisa. Semakin.

00:32:13
Ini ya. Jadi lebih baik ya, jadi

00:32:17
karakter kita juga makin diubah. Ya ya guys untuk untuk summarice

00:32:25
yang kita pelajari itu. Satu.

00:32:30
Komunikasi, komunikasi. Saling saling terbuka gitu apa

00:32:35
yang kita butuhin, apa yang kita enggak senang terutama dalam hal

00:32:38
pertengkarannya saat kita bertengkar gitu kan ya gimana

00:32:42
gimana kita mau bertengkarnya gimana nih.

00:32:46
Yang 2 ya. Relasi lebih penting dari.

00:32:51
Dari menang ya? Yang 3 ya saling menerima ya

00:32:54
saling menerima dan. Persender pada persenda pada

00:32:59
iman aku rasa ya ya dan ada komitmen untuk untuk apa untuk

00:33:05
untuk perbaikan perbaikan kembali gitu ya ya dan dan dari

00:33:11
yang aku baru baru baru nyadar gitu kamu kamu sering lupa sama

00:33:17
yang dulu dulu gitu. Aku rasa itu mungkin mungkin

00:33:20
mencerminkannya if you lared it go.

00:33:23
Kita harus bisa ngelepasin ya kalau kalau semuanya disimpan

00:33:26
dalam hati. Ingat ingat ungkit ungkit capek.

00:33:30
Sendiri. Tapi emang emang kita butuh

00:33:34
bantuan bantuan tuhan bantuan rakudus.

00:33:37
Ya oh aku rasa kalau mengandalkan keegoisan kita

00:33:42
sendiri, it's gonna be real hard dan dan tuhan yang bisa apa

00:33:47
membantu dia yang bisa memulihkan ya?

00:33:51
Dan tentunya pengalaman teman teman, keluarga Katolik ya beda

00:33:54
beda situasi keluarga kan beda beda ya, jadi kita enggak enggak

00:33:59
berusaha. Apa kasih nasihat sehat ini

00:34:03
benar gitu ya ini ini benar buat kami.

00:34:06
This is what work for us. Tapi mungkin.

00:34:09
Buat teman teman ada something else yang works ya.

00:34:13
Mungkin kalau ada sharing ada tips buat pasangan.

00:34:19
Keluarga Katolik yang lain bisa disharingkan kepada kami di

00:34:23
www.keluarga Katolik dot online. Oke mari kita tutup dengan doa.

00:34:31
Tidak bernama bapak putra. Dan kurus amin.

00:34:33
Terima kasih tuhan. Kami boleh berbincang bincang.

00:34:38
Dan boleh mengingat gimana kami dalam hubungan suami istri

00:34:46
berargumen berantem dan kami bersyukur kalau enggak ubahkan

00:34:51
perlahan lahan. Dan.

00:34:56
Membantu kami untuk boleh jadi istri yang lebih baik.

00:35:00
Suami yang lebih baik. Bersyukur untuk.

00:35:05
Kami melewati hal hal. Melewati peristiwa peristiwa

00:35:11
yang enggak enak. Tapi kami banyak belajar.

00:35:15
Bersyukur untuk alaro kudus yang selalu membimbing selalu.

00:35:23
Hmm menuntun. Dalam menemukan jalan keluar kan

00:35:28
berdoa untuk. Temen temen keluarga Katolik

00:35:32
yang mungkin saat ini masih struggle dalam berelasi dalam

00:35:37
mengkomunikasikan keinginan mereka ke tidak sukaan.

00:35:42
Mereka juga kepada pasangannya. Mohon engkau bantu engkau beri.

00:35:50
Keberanian kau beri kekuatan saat menghadapi hal hal.

00:35:56
Saat menghadapi masa masa sulit dalam pernikahan mereka.

00:36:01
Dan kami berdoa agar engkau memulihkan kau bantu.

00:36:07
Kan berdoa garol membantu. Mereka memulihkan relasi.

00:36:13
Sebab kami tahu engkau allah pemulih allah penyembuh.

00:36:17
Nggak cuma badan nggak cuma kesehatan fisik, tapi juga

00:36:22
relasi relasi yang yang retak. Ala rockwus.

00:36:31
Kami butuhkan bantuanmu rahmatmu dalam merepair hubungan kami.

00:36:37
Hadirlah saat kami berbicara saat kami terbuka.

00:36:42
Dan juga saat kami mau mendengarkan.

00:36:46
Pasangan kami. Apa yang mereka inginkan, apa

00:36:50
yang mereka butuhkan? Biar engkau boleh menjadi

00:36:53
penengah kami. Terima kasih alarm kudu dus.

00:36:58
Biarlah engkau selalu ada dalam setiap relasi keluarga Katolik.

00:37:02
Di manapun. Kemudian kepada bapak putra

00:37:07
kudus seperti. Pada permulaan sekarang, selalu

00:37:10
dan sepanjang segala. Aman.

00:37:12
Dalam nama bapak dan terakhir dan rukdes.

00:37:18
Nanti kan kami di episode mendatang dan jika teman teman

00:37:21
terberkati oleh episode ini dukung kami ya dengan

00:37:24
mensharingkan aku kau dan dia podcast keluarga Katolik ke

00:37:27
saudara dan teman teman yang lain.

00:37:30
Jangan lupa kunjungi kami di www.keluarga Katolik dot online

00:37:34
di sana teman teman bisa menemukan episode episode

00:37:37
sebelumnya dan siapa tahu relevan dengan situasi teman

00:37:40
teman saat ini. Sampai jumpa dan tuhan

00:37:43
memberkati.